Oregairu Volume 1 - 3 Bahasa Indonesia

 Oregairu Volume 1 - 3 Bahasa Indonesia.


 Sejujurnya, aku merasa tidak akan stres jika mereka membiarkan aku sendiri.  Berada di lingkungan yang terisolasi, seperti biasanya, akan membuat aku merasa lebih nyaman.  Suara jarum di jam itu sangat lambat sehingga aku bisa mendengarnya berdetak dengan keras.

 Hei, tunggu, apakah ini nyata?  Perkembangan komedi romantis yang tiba-tiba?  Selimut ketegangan yang luar biasa baru saja memenuhi ruangan.  Aku tidak punya keluhan tentang situasinya.

 Tiba-tiba, aku teringat kenangan pahit dari jaman SMP.

 Sepulang sekolah. Ada dua siswa sendirian di kelas.  Tirai bergoyang oleh angin sepoi-sepoi, dan saat sinar matahari terbenam mengalir, seorang anak laki-laki mengumpulkan keberaniannya dan menembak seseorang.

 Aku masih bisa mengingat dengan jelas suara gadis itu.  ‘Tidak bisakah kita berteman saja?’

 Ah tidak, ini adalah kenangan buruk.  Kami bahkan tidak pernah berbicara lagi setelah itu, apalagi tetap berteman.  Berkat itu, aku akhirnya bertanya-tanya apa persahabatan adalah hubungan di mana orang-orang bahkan tidak memiliki percakapan satu sama lain.

 Intinya adalah, berduaan dengan gadis cantik di ruangan seperti semacam komedi romantis tidak akan pernah terjadi padaku di kehidupan nyata.  Sekarang aku sangat terlatih, tidak mungkin aku akan jatuh ke dalam perangkap seperti itu.

Gadis-gadis terbukti tertarik pada orang-orang keren dan populer. Mereka juga terlibat dalam hubungan yang tidak murni dengan mereka. Memikirkannya membuatku terkikik.

 Dengan kata lain, mereka adalah musuhku.

 Sampai sekarang, aku telah berusaha untuk memastikan bahwa aku tidak akan pernah mengalami itu lagi. Cara tercepat untuk menghindari terjebak dalam perkembangan komedi romantis adalah dengan dibenci. Kalah di pertempuran untuk memenangkan perang. Aku akan melakukan apa saja untuk melindungi harga diri ku jadi aku tidak membutuhkan hal-hal seperti popularitas!

 Ngomong-ngomong, sebagai pengganti salam, aku memutuskan untuk mengintimidasi Yukinoshita dengan cemberut padanya. Binatang buas membunuh dengan mata mereka!

 Grrrr!

 Sebagai tanggapan, Yukinoshita melirikku seperti aku adalah sampah. Dia menyipitkan matanya yang besar dan menghela nafas dingin. Kemudian, dengan suara seperti gumaman sungai yang jernih, dia berbicara kepadaku.

 “...Bagaimana kalau kamu berhenti berdiri di sana, jangan membuat suara menggeram yang menjijikkan itu, dan duduk saja?”

 “Hah? Oh ya. Maaf.”

......Woah, ada apa dengan mata yg tadi? Seekor binatang buas?

 Mereka pasti akan membunuh lima orang. Sama seperti bagaimana penyanyi itu, Matsushima Tomoko, tersangkut di mulut macan tutul itu. Apa aku secara naluriah meminta maaf padanya? Bahkan tanpa aku sengaja mencoba mengintimidasinya, Yukinoshita telah memandangku dengan permusuhan. Sangat terkesima, aku menarik kursi kosong dan duduk.

 Setelah itu, Yukinoshita tidak menunjukkan sedikitpun kekhawatiran padaku. Pada suatu saat, buku saku miliknya telah dibuka lagi. Terdengar suara halaman membalik. Aku tidak tahu apa yang dia baca dari sampulnya, tapi kupikir itu pasti semacam karya sastra. Sesuatu seperti Salinger, Hemingway atau Tolstoy. Itulah jenis kesan yang dia berikan.

 Yukinoshita seperti bangsawan, karena dia adalah siswa teladan dan juga karena bagaimanapun juga, dia akan selalu menjadi gadis yang cantik.

 Tapi seperti biasa bagi orang-orang elit seperti itu, Yukinoshita Yukino terputus dari lingkaran sosial mana pun. Sama seperti namanya, Yuki no Shita no Yuki (Salju di bawah salju), betapapun cantiknya dia, dia tidak dapat disentuh dan tidak dapat diperoleh. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah merenungkan kecantikannya.

 Sejujurnya, aku tidak pernah berpikir bahwa melalui pergantian peristiwa yang tidak masuk akal ini, aku bisa berkenalan dengannya. aki yakin jika aku membual tentang hal itu kepada teman-temanku, mereka akan cemburu. Meskipun aku tidak punya teman yang bisa  dibanggakan.

Jadi, apa yang harus aku lakukan dengan Nona Cantik ini?

 “Apa ada yang salah?”

 Mungkin karena aku menatapnya terlalu lama, tapi Yukinoshita mengernyitkan alisnya karena tidak senang dan membalas menatapku.

 “Ah, maaf. Aku sedang memikirkan apa yang harus aku lakukan tentang semua ini.”

 “Tentang apa?”

 “Yah, maksudku, hanya saja aku dibawa ke sini hanya dengan penjelasan yang membingungkan.”

 Sebagai ganti 'tsk-tsk', dia mengungkapkan kekesalannya dengan menutup bukunya dengan keras. Kemudian setelah memelototiku dengan matanya, seolah-olah aku hanyalah serangga, dia menghela nafas pasrah dan mengucapkan beberapa patah kata.

 “...Kurasa kau benar. Kalau begitu mari kita bermain game.”

 “Game?”

"Iya. Game yang mengharuskanmu menebak klub apa ini. Jadi, klub macam apa ini?”

 Sebuah permainan dengan seorang gadis cantik di ruangan kelas…

 Aku hanya bisa merasakan bahwa ada semacam elemen erotis dalam hal ini, namun getaran yang dia keluarkan tidak ringan, melainkan seperti pisau yang diasah.

 Begitu tajam sehingga aku bertanya-tanya apa hidupku akan berakhir kalau aku kalah. Kemana perginya suasana komedi romantis itu? Bukankah ini lebih seperti Kaiji? Memberikan tekanan, aku mulai berkeringat dingin saat aku mengamati bagian dalam ruangan, mencoba menemukan petunjuk.

 “Apa ada anggota klub lain?”

 “Tidak, tidak ada.”

 Apakah klub ini bahkan dapat melanjutkan sebagai klub? Aku sangat meragukannya. Sederhananya, tidak ada petunjuk.

 Tidak, tunggu. Sebaliknya, tidak ada apa-apa selain petunjuk. Bukannya menyombongkan diri, tetapi sejak aku kecil, aku sangat pandai dalam permainan satu pemain, karena memiliki sedikit teman.



Aku memiliki sedikit kepercayaan diri dalam gamebook dan teka-teki. Aku pikir aku bahkan bisa menang di salah satu acara kuis SMA itu. Nah jika itu adalah klub yang tidak dapat merekrut anggota lain, maka anggota lain tidak dapat berpartisipasi. Banyak hal yang bisa aku simpulkan dari sini. Jika aku mengatur pikiran aku dari awal, jawabannya akan menjadi jelas.

 “Klub sastra?”

 “Betulkah...? Alasanmu?” Yukinoshita bertanya dengan penuh minat.

 “Tata letak yang aneh, kurangnya kebutuhan untuk peralatan khusus dan meskipun faktanya tidak ada cukup anggota klub belum dihapuskan. Dengan kata lain, itu adalah klub yang tidak memerlukan biaya apapun. Selain itu , kamu sedang membaca buku. Jawabannya sudah terlihat dari awal.”

 Alasan yang sempurna, aku sendiri bisa mengatakannya. Bahkan tanpa seorang anak SD berkacamata berkata ‘Wah...benarkah?’ dan memberiku petunjuk, sesuatu seperti ini sangatlah mudah.

 Itu bahkan akan membuat Nona Yukino menunjukkan kekaguman dan berkata ‘Begitu...’ dengan gusar kecil.

 “Salah.” Yukinoshita tertawa pendek dan menghina.

...Sekarang, ini membuatku gugup. Siapa yang bilang kamu superman sempurna yang tak tercela? Kamu lebih seperti dark superman.

 “Lalu klub macam apa ini?” Terlepas dari kejengkelan dalam suaraku, Yukinoshita tidak membuat gerakan bahwa dia terganggu olehnya. Dia menjelaskan bahwa permainan akan terus berlanjut.

 “Baiklah, aku akan memberimu petunjuk terbesar. Keberadaanku di sini, melakukan apa adanya, adalah aktivitas klub.”

 Akhirnya dia memberiku petunjuk. Tapi itu tidak berhubungan dengan jawabannya sama sekali. Akhirnya aku hanya akan sampai pada kesimpulan yang sama seperti sebelumnya – klub sastra.

 Tidak, tunggu. Tunggu sebentar dan tenang. Santai saja. Tenanglah, Hikigaya Hachiman.

 Dia berkata ‘tidak ada anggota klub lain selain aku.’ Namun klub masih berfungsi.

 Dengan kata lain, apakah itu berarti ada anggota hantu? Kemudian twist dalam cerita adalah bahwa anggota hantu benar-benar hantu. Dan pada akhirnya, komedi romantis milikku akan direncanakan untuk berkembang antara seorang gadis hantu yang cantik dan aku.

“Asosiasi penelitian ilmu gaib!”

 "Sudah kubilang itu adalah klub...”

 “Klub penelitian okultisme!”

 “Salah…Itu konyol. Hantu itu tidak ada.”

 Tanpa menunjukkan sedikit pun keimutan dengan mengatakan sesuatu seperti ‘Kau tahu, mereka benar-benar tidak ada! Aku tidak mengatakan itu karena aku takut atau semacamnya!’ dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk menatapku dengan mata yang paling menghina.

 Mereka adalah jenis mata yang mengatakan ‘Idiot mati saja.’

 “Aku menyerah. Aku tidak tau.”

* * *

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url